rumah sakit yang pro vbac

Melihatrumah sakit pertama tidak pro, maka saya niat cari 4th opinion *udah bukan 2nd opinion lagi* jadi saya browsing dan mulai tanya2 kira-kira dsog mana di jakarta yang pro tandem nursing dan vbac, krn don't know why saya optimis yang kali ini lebih kuat krn saya hanya kuliah saja (tidak bekerja jadi reporter kayak dulu), dan karna UntukMoms yang sedang mencari RSIA di Tangerang, cek beberapa opsi berikut. 0. 0. Simpan. Artikel ditulis oleh Anggia Hapsari. Disunting oleh Adeline Wahyu. Daftar isi artikel. RSIA di Tangerang Paling Sering Dituju; Produk Rekomendasi. Topik Terkait. kesehatan Bayi Anak rsia di tangerang melahirkan caesar kesehatan hamil. Tools untuk Si Kecil. Terkiniid, Jakarta- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerbitkan kepgub soal penjenamaan rumah sehat untuk Jakarta. Penjelasan soal Rumah Sehat tertuang dalam Kepgub 562 Tahun 2022. Kepgub Anies itu diteken 16 Juni 2022. "Menetapkan Rumah Sehat untuk Jakarta sebagai penjenamaan Rumah Sakit Daerah milik pemerintah Provinsi DKI Jakarta," Demikian isi Kepgub Anies dikutip dari detiknews Ketikatelah diputuskan untuk merencanakan persalinan VBAC, sebaiknya persalinan dilakukan di rumah sakit agar jika sewaktu-waktu dibutuhkan operasi sesar darurat, hal tersebut dapat terlaksana secara cepat. Ibu hamil yang merencanakan VBAC dapat segera datang ke rumah sakit apabila sudah merasakan kontraksi yang teratur ataupun ketuban pecah. Rumahsakit di Bandung yg pro VBAC dimana ya? Anggie Agustina Abdul Rochman Putri. ratu of 1 tampan anak laki-laki. 1 Er Sucht Sie Schrot Und Korn. BerandaKontesResepMakananPanduanTopikArtikelBidan pro VBAC daerah bekasiTulis tanggapanbu kalo mau VBAC sangat dianjurkan utk di RS yg dokter anestesinya stand bye. seandai gagal VBAC langsung tindakan SC. itu yg saya bacabidan pro vbac mau tanya bunda2 dsni tau ga bidan yg pro vbac d daerah pulogebang jakarta timur ? pro VBAC. ass.... bunda2 yg tinggal di daerah bandung, share dong pengalaman VBAC kalian, dengan bid... Provider yang Pro VBAC Mom, sharing dong perihal bidan atau nakes yang pro VBAC daerah Cibinong,Kab.... RS PRO VBAC DI BLITAR Assalamualaikum bunda semua, adakah info atau rekomendasi rs / bidan yang pro... dokter spog pro vbac di bekasi timur Bunda mau tanya dong, dokter obgyn yg pro vbac di daerah bekasi... Bisakah saya melahirkan normal? Jika... Hi, Parents! Salam kenal, saya Judio,SpOG Semoga s... Membunuh hewan karna kesal Halo bunda"' mau tanya nih , saya kan hamil udah 26 wekmau 27 wek , nah k... Solusi asi tidak lancar Halo bunda".. Saya sedih banget karena asi kurang lancar.. Ini hasil saya p... Artikel?BerandaJajak Sementara bila ibu ingin melahirkan di rumah dengan prosedur ini, sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan dokter. Tak lupa, penting untuk dipahami bahwa bila ingin melakukan prosesdur VBAC, jarak kehamilan dari persalinan caesar sebelumnya adalah 18 bulan. Jadi, jika sebelumnya Anda melahirkan dengan operasi caesar kemudian hamil kembali dengan jarang kurang dari 18 bulan, kemungkinan sulit atau bahkan tidak bisa melahirkan dengan prosedur normal nantinya. Hal yang perlu diketahui sebelum melakukan VBAC Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, VBAC adalah prosedur yang butuh pertimbangan matang. Prosedur melahirkan normal memang tidak bisa dilakukan oleh setiap ibu hamil yang pernah caesar karena butuh berbagai pertimbangan. Berbagai kondisi yang memperbolehkan ibu melakukukan dan tidak melakukan VBAC atau melahirkan normal setelah caesar adalah sebagai berikut. Siapa saja yang boleh melakukan VBAC? Kondisi ibu hamil yang diperbolehkan melahirkan normal setelah caesar atau VBAC adalah sebagai berikut Ibu yang memiliki bekas sayatan operasi caesar berbentuk garis horizontal yang terletak rendah di bawah perut. Saat ini mengandung 1 bayi, dan hanya pernah 1 kali operasi caesar sebelumnya tapi bukan dengan sayatan vertikal. Persalinan terjadi secara spontan setelah induksi, sehingga kontraksi berlangsung cepat. Ukuran taksiran berat janin lebih kecil dari ukuran berat janin sebelumnya. Tulang panggul Anda berukuran cukup besar, sehingga memungkinkan bayi untuk keluar dengan mudah. Biasanya dokter yang dapat menentukan hal ini. Belum pernah melakukan operasi berat pada rahim, seperti miomektomi untuk mengangkat tumor rahim jinak fibroid. Belum pernah mengalami rahim robek di kehamilan sebelumnya. Tidak memiliki kondisi medis yang membuat persalinan melalui vagina menjadi berisiko, misalnya plasenta previa atau fibroid. Siapa saja yang tidak dianjurkan melakukan VBAC? Kondisi ibu hamil yang tidak diperbolehkan melahirkan normal setelah caesar atau VBAC adalah sebagai berikut. Pernah melakukan persalinan caesar dengan sayatan rahim vertikal. Sayatan vertikal di bagian atas rahim atau sayatan klasik dengan bentuk huruf T akan menempatkan Anda pada risiko yang lebih tinggi untuk mengalami ruptur uterus rahim robek saat mengejan nanti. Pernah melakukan persalinan caesar dengan jenis sayatan rahim yang tidak diketahui pasti, tapi diduga merupakan sayatan vertikal klasik. Pernah mengalami rahim robek di kehamilan sebelumnya. Pernah melakukan operasi berat pada rahim sebelumnya, seperti pengangkatan tumor rahim jinak. Hamil di usia yang sudah terlalu tua, seperti lebih dari 35 bahkan 40 tahun. Hamil dengan berat badan berlebih. Berat bayi yang lahir lebih dari gram gr alias bayi makrosomia. Usia kehamilan sudah lebih dari 40 minggu. Usia kehamilan terlalu singkat, sekitar kurang dari 18 minggu. Sedang hamil bayi kembar tiga atau lebih. Beberapa rumah sakit atau klinik bersalin biasanya tidak menganjurkan ibu untuk menjalani VBAC jika sudah pernah melahirkan caesar lebih dari dua kali. Konsultasikan juga dengan dokter bila ibu sedang hamil kembar dan ingin melahirkan anak kembar dengan prosedur VBAC. Apa manfaat VBAC? VBAC adalah prosedur melahirkan yang aman dengan tingkat keberhasilan tinggi jika dilakukan dengan tepat. Melahirkan normal setelah caesar juga berpotensi membawa sejumlah manfaat baik bagi ibu dan bayinya, seperti berikut. 1. Proses pemulihan lebih cepat Dibandingkan melahirkan caesar, melahirkan normal lewat vagina membutuhkan waktu pemulihan yang lebih singkat. Artinya, waktu yang ibu habiskan untuk rawat inap di rumah sakit pun tidak akan terlalu lama. Ibu bisa segera kembali melakukan aktivitas harian lainnya seperti sedia kala. 2. Melibatkan rasa perjuangan’ yang lebih besar Operasi caesar melibatkan pemberian obat bius atau anestesi guna mengurangi rasa sakit. Itu sebabnya, usaha yang Anda lakukan untuk mengeluarkan bayi dari dalam perut biasanya tidak sebesar proses melahirkan normal. Sebaliknya, proses melahirkan melalui vagina mengharuskan Anda untuk menerapkan cara mengejan saat melahirkan sekuat tenaga demi mendorong bayi keluar. Alhasil, ada perasaan haru tersendiri usai melalui proses melahirkan yang panjang. Meski begitu, prosedur melahirkan normal maupun operasi caesar ini tetap saja akan memberikan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Biasakan juga untuk berlatih teknik pernapasan saat melahirkan sejak masa kehamilan, misalnya melalui latihan prenatal yoga. Ibu juga bisa mempelajar beragam posisi persalinan agar memudahkan proses melahirkan normal setelah caesar VBAC nantinya. 3. Menurunkan risiko komplikasi operasi Pada dasarnya, semua jenis operasi berisiko menimbulkan komplikasi selama atau setelah prosesnya berlangsung, begitu pula dengan operasi melahirkan caesar. Operasi melahirkan caesar yang tidak berjalan mulus dapat meningkatkan risiko komplikasi persalinan serius. Keputusan melahirkan normal setelah caesar atau VBAC dapat membantu menekan risiko terjadinya perdarahan, infeksi, pembekuan darah, atau cedera organ selama persalinan. Ketika tanda-tanda melahirkan sudah terlihat tetapi belum kunjung terjadi pembukaan lahiran, dokter mungkin memberikan induksi persalinan untuk ibu. Tanda akan melahirkan lainnya juga meliputi kontraksi persalinan asli dan air ketuban pecah. Sementara bila proses persalinan normal mengalami hambatan, prosedur medis seperti penggunaan forceps, ekstraksi vakum, hingga episiotomi gunting vagina akan dipertimbangkan. 4. Menurunkan risiko dampak buruk di kehamilan berikutnya Jika pernah melakukan operasi caesar sekali atau lebih, akan meningkatkan risiko potensi masalah kesehatan di kehamilan selanjutnya. Bagi Anda yang memang sedari awal sudah berencana untuk punya banyak anak, VBAC adalah prosedur yang tepat karena membantu mencegah risiko negatif dari prosedur melahirkan caesar. Risiko negatif tersebut misalnya rahim robek karena luka dan plasenta bermasalah akibat operasi caesar. Terlebih lagi, risiko komplikasi tersebut biasanya akan semakin meningkat semakin sering Anda menjalani operasi caesar. Adakah risiko VBAC? Terlepas dari berbagai manfaat baik yang bisa diperoleh melalui prosedur melahirkan VBAC, tentu tetap ada kekurangan melahirkan normal setelah caesar yang harus dipertimbangkan. Kemungkinan terburuk dar VBAC adalah kegagalan karena tidak berhasil menjalankan persalinan normal dengan sempurna. Kondisi ini bisa membuat rahim robek karena bekas sayatan dari operasi caesar sebelumnya terbuka, mengutip dari American Pregnancy Association. Bila sudah begini, operasi caesar darurat mau tidak mau harus segera dilakukan guna mencegah komplikasi persalinan yang meliputi perdarahan hebat, infeksi, hingga cacat pada bayi. Dalam beberapa kasus perdarahan yang cukup parah, operasi angkat rahim histerektomi harus dilakukan. Artinya, ada kemungkinan Anda tidak bisa hamil lagi bila menjalani operasi histerektomi. Persiapan penting menjelang VBAC Langkah paling utama yang harus Anda lakukan sebelum memutuskan melahirkan VBAC adalah membicarakan dengan dokter Anda. Selama konsultasi dokter akan melihat kembali semua riwayat medis Anda terkait kehamilan dan persalinan yang pernah dilakukan sebelumnya. Jika memang memungkinkan, dokter dapat memberikan Anda lampu hijau untuk prosedur VBAC. Selain itu, persiapan beberapa hal terkait prosedur melahirkan normal setelah caesar atau VBAC adalah berikut. Mempelajari semua hal mengenai VBAC. Pastikan Anda memilih pelayanan kesehatan atau rumah sakit dengan fasilitas melahirkan yang lengkap, termasuk untuk menangani operasi caesar darurat. Persiapkan kemungkinan terburuknya, misalnya ketika tiba-tiba terjadi komplikasi saat sedang melakukan persalinan normal. Ibu juga bisa mengikuti kelas persalinan yang turut membahas mengenai prosedur melahirkan normal setelah caesar atau VBAC. Sebaiknya kenali lebih dalam mengenai prosedur melahirkan ini sebelum memutuskan untuk menjalaninya dan tanyakan pendapat dokter kandungan Anda. Posted On 19 Januari 2022Posted By Hermina Arcamanik3 min readReviewed By Lina Karlina, dr., SpOGSemua Tentang VBAC Vaginal Birth After CaesareanVBAC Vaginal Birth After Cesarean adalah ibu hamil dengan riwayat operasi sesar yang mencoba persalinan normal. Pemilihan VBAC harus didahului diskusi dengan tenaga kesehatan mengenai manfaat maupun risikonya. Sehingga ibu hamil siap secara fisik dan mental menghadapi persalinan dengan metode ini. Persiapan VBAC adalah berkonsultasi sejak awal kehamilan untuk merencanakan kelahiran. Konsultasi dan diskusikan rencana VBAC dengan dokter Obgyn yang merawat. Utarakan secara jujur dan detail riwayat kesehatan ibu. Dokter akan menentukan rekomendasi terbaik untuk ibu hamil, apakah VBAC atau SC ulang dengan mempertimbangkan besar risiko dan manfaat. Dalam pelaksanaannya VBAC harus dilakukan di RS, mengingat komplikasi bisa terjadi setiap saat dan membutuhkan pertolongan cepat. Jika terjadi robekan rahim maka harus dilakukan operasi secepatnya. Robekan rahim selama 13 menit dapat menyebabkan kematian janin. Prinsip terpenting yang mutlak pada VBAC adalah harus dilakukan di rumah sakit. Karena pada VBAC dapat beresiko komplikasi robekan rahim yang membutuhkan penanganan operasi sangat cepat. Keterlambatan penanganan robekan rahim dapat berujung pada kematian ibu dan janin. Dengan melakukan VBAC di luar RS maka akan ada potensi keterlambatan penanganan karena harus melalui proses merujuk ke RS. Risiko utama VBAC adalah terjadinya robekan rahim. Secara umum angka kejadiannya 18 bulan. Yang tidak disarankan VBAC yaitu obesitas, SC lebih dari 2x, posisi bayi tidak normal, kehamilan kembar atau lebih, pernah operasi rahim myoma, pernah mengalami robekan rahim sebelumnya, ukuran panggul sempit, irisan rahim sebelumnya vertikal atau di atas atau tidak diketahui. Faktor Pendukung Keberhasilan VBAC yaitu riwayat persalinan normal sebelumnya, persalinan terjadi secara alami, mulut rahim yang lunak, tidak ada indikasi medis SC sebelumnya yang berulang. Faktor penghambat keberhasilan VABC yaitu obesitas kegemukan, peningkatan berat badan ibu berlebihan selama hamil, Ibu pendek, bayi besar > 4000 gram, usia ibu lebih dari 40 tahun, membutuhkan induksi persalinan tidak diperbolehkan, indikasi berulang SC, usia kehamilan lebih dari 40 minggu, diabetes dalam kehamilan, preeklampsia, mulut rahim tertutup. Sebagai pengingat Tugas manusia adalah ikhtiar maksimal. Maksimal dalam arti berdiskusi dengan orang yang ilmunya dapat dipertanggungjawbkan, ilmu bermanfaat yang didapat lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada kekeliruan dalam prakteknya segera perbaiki. Dalam perjalannya selalu iringi dengan doa, sabar, dan syukur. Akan seperti apa hasil akhir atas ikhtiarnya itu di luar kendali diri, serahkan pada yang Maha Perencana. Kamis, 26 Oktober 2017. am "Sudah lahir?" tanyaku begitu 'isi perut' seperti tumpah keluar. Terasa cepat sekali dibanding datangnya gelombang cinta yang bertubi-tubi sebelumnya. "Iya Bu, sudah. Selamat ya!" jawab bidan dan perawat yang mendampingi persalinan. Ah, MasyaAllah, ada rasa haru dan bahagia tak terhingga begitu bayi itu diangsurkan padaku untuk IMD Inisiasi Menyusu Dini. Dokter segera melakukan 'finishing' yang kusambut dengan cengiran dan ringisan. Sekian menit saya tergugu, betapa Allah sangat pemurah. Teringat beberapa bulan lalu, seorang sahabat memberi nasihat, 'JANGAN LUPAKAN QIYAMULLAIL' saat saya bertanya perihal pengalamannya berhasil melalui persalinan VBAC. Nyatanya tidak tiap malam saya bisa bangun untuk merayuNya, dan tilawah Alquran pun tidak sesuai dengan target diri sendiri. Hiks 😒😒 Makin tergugu saat dokter bergegas mengambil air wudlu setelah selesai menangani persalinan. Sejurus kemudian terdengar beliau melakukan shalat tahajud di pojok ruangan bersalin sementara perawat membantuku bebersih badan. Malu.... sekali rasanya. Betapa Allah selalu mengabulkan doa, tapi justru saya yang tidak sepenuhnya memanfaatkan moment-moment mustajab untuk memohon doa. Alhamdulillahirabbil 'alamin.. Masih amaze dengan kuasaNya yang mengizinkan saya bisa melalui persalinan pervaginam dengan riwayat SC sebelumnya. Terimakasih atas do'a dan support dari sahabat semua 😘😘 Ending yang membahagiakan itu bukan dilalui dengan tanpa beban dan hambatan. Seperti pepatah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit dahulu bersenang-senang kemudian. Dan saya pun selalu yakin dengan janji Allah bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. 25 Februari 2017 Hari itu tepat anak pertama saya berusia 3 tahun. Tak ada yang istimewa, saya justru meninggalkannya seharian di rumah bersama mbah dan dua Buliknya yang sedang berkunjung. Saya mengikuti acara blogger dan berlanjut kajian rutin hingga menjelang maghrib. Hari itu saya juga merasa tak enak badan, perut begah, kepala pusing dan sesekali mual. "Hamil mungkin, sudah berapa hari telat?" pertanyaan ini meluncur dari seorang teman, yang kutangkis dengan fakta biasanya datang bulan selalu maju dari tanggal alias siklus panjang. Tapi berhubung beberapa hari setelahnya Si Tamu tak jua datang, saya mulai curiga. Jangan-jangan beneran hamil? Apalagi sempat muntah-muntah dan jadi kurang berselera makan. Bakmi Jawa favorit menjadi tak nikmat di lidah dan tak kuasa menghabiskan seporsinya. Dan, tespack setelah terlambat sepekan menunjukkan 2 garis merah. Ya Rabb.. Saya hamil lagi?! Sebenarnya saya ingin hamil setelah Hasna berusia 2 tahun dan sudah lulus ASI&Toilet Training. Namun rupanya Allah lebih Mengetahui waktu yang paling tepat sehingga Dia memberikan amanah lagi setelah si Kakak berusia 3 tahun. Bismillah, berbekal jarak kehamilan yang kurang lebih 3,5 tahun sampai nanti melahirkan saya pun berniat untuk melahirkan normal pervaginam. InsyaAllah bisa! Itu keyakinan saya, karena banyak teman dan kasus ibu yang melahirkan sectio tetap bisa melahirkan pervaginam dengan syarat dan ketentuan berlaku, tentu saja. Suami yang awalnya gundah akhirnya ikut mendukung setelah saya berikan kisah-kisah mereka yang berhasil melalui persalinan VBAC Vaginal Birth After Caesarea. Segera saya periksa ke bidan terdekat, tempat saya periksa kehamilan si Kakak Hasna dulu. "Saya ingin bisa lahiran normal, Bu," ujar saya saat konaultasi dengan bidan tersebut. "Ya, bismillah insyaAllah bisa. Sekarang dijalani dulu saja, tak perlu banyak dipikir. Nanti mulai trimester ke tiga baru bisa dilihat kira-kira memungkinkan untuk lahir normal atau tidak," jawab beliau. Bulan-bulan berikutnya sembari mencari dokter kandungan yang pro VBAC, saya periksa ke bidan yang sama atau ke rumah bersalin RB yang menyediakan layanan USG ultrasonografi. Sayang di RB tersebut dokternya tidak menyarankan untuk melahirkan normal. "Kalau dulu SC harus SC lagi, Bu" kata beliau. Saya hanya menanggapi dengan tersenyum. Di zaman serba canggih dan arus informasi yang cepat, ada ibu berhasil VBAC dengan jarak kurang dari 2 tahun akan diketahui oleh seantero jagad raya Bu! Batin saya waktu itu. Memang semuanya tergantung kondisi, tapi dengan jarak 3 tahun lebih harusnya sudah sangat aman kecuali ada faktor risiko lainnya. Setelah beberapa kali periksa ke RB yang sama namun tanggapan dan layanan petugasnya makin kurang menyenangkan, saya pun makin getol mencari informasi DSOG dan rumah sakit yang cocok. Ingin kembali ke rumah sakit tempat Hasna dilahirkan, namun ragu dengan dokternya apakah pro VBAC atau tidak. Sedangkan ada dokter lain yang pro VBAC namun praktik di RS yang lain. Saya mencoba konsultasi ke dokter yang dulu menangani Hasna, namun ketika saya menyampaikan keinginan untuk ikhtiar melahirkan pervaginam beliau tidak mendukung. Sejak awal beliau mengatakan kejadian seperti saya saat melahirkan Hasna bisa berulang Ketuban Pecah Dini/KPD dan partus lambat sampai air ketuban habis. Mendengar itu, saya langsung mencoret nama beliau dari daftar dokter untuk persalinan nanti. Akhirnya terpaksa mencoret rumah sakit tempat beliau praktik juga. Hiks. Padahal dibanding RS swasta yang lain, RS ini paling nyaman untuk melahirkan karena RS kecil sehingga tidak terlalu sibuk dan ramai. Lagi-lagi saya mencari pertimbangan rumah sakit dan dokter yang ramah untuk konsultasi sekaligus pro-VBAC. Butuh waktu lama bagi saya untuk memutuskan, karena masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Dokter A orangnya sangat santai tetapi pekerjaannya terkesan terburu-buru dan kurang rapi. Dokter B sangat ramah dan baik tapi antriannya panjang dan butuh perjuangan untuk bertemu beliau. Dokter C sering terkesan jutek tapi beliau sangat profesional dalam kerja. Dokter D hanya praktik di RS yang tidak termasuk dalam list saya. Dokter E terlalu jauh dari rumah. Duh, kepala saya pusing memikirkannya. Setelah memikirkan banyak hal dan mengumpulkan testimoni dari teman-teman, akhirnya saya dan suami sepakat untuk konsultasi dengan dr. P di RS. Roemani. Akhir Agustus 2017 31 Week Pregnancy Bismillah, Jumat di akhir Agustus itu diawali dengan keriweuhan suami yang rela berangkat pagi-pagi ba'da shalat subuh. Demi apa? Demi ikhtiar mendapatkan kuota konsultasi dengan dr. P. Waktu itu Roemani belum bisa melayani registrasi online, sehingga nomor antrean harus diambil pagi-pagi supaya tidak kehabisan. Kebetulan dr. P selalu membatasi pasien di setiap praktik, dan untuk hari Jumat maksimal 25 pasien. Padahal Jumat adalah jadwal praktik beliau yang paling lama selama sepekan. Alhamdulillah, suami mengabari saya dapat kuota sehingga harus bersiap agar nantinya tidak terlambat. Setelah antre cukup lama di depan poli kandungan, akhirnya giliran saya dipanggil. Senang sekali bisa bertemu dan bertanya banyak dengan dokter fenomenal kesayangan para bumil di Semarang itu. Beliau sangat ramah dan langsung menanggapi dengan santai saat saya mengatakan ingin ikhtiar melahirkan normal. "Bismillah, insyaAllah bisa. Tapi harus ikhtiar ya Bu, nggak cukup do’a aja. Nanti ikut senam hamil, tiap hari harus jalan kaki, jaga asupan makanan supaya BBJ Berat Badan Janin nggak kebesaran, harus banyak minum air putih supaya nggak KPD Ketuban Pecah Dini lagi, jangan minum teh sama sekali supaya HB mencukupi," "Baik Bu, insyaAllah. Supaya HB tinggi bagaimana, Dok?" "Banyak makan daging merah, oia kurangi konsumsi karbo dan gula ya. Kalau bisa nggak usah makan nasi sama sekali nggak apa-apa. Kalau belum bisa ya sedikit saja boleh," "Baik, Dok," Dan pemeriksaan selanjutnya seperti biasa, alhamdulillah tidak ada masalah. Hari itu juga saya langsung didaftarkan untuk mengikuti senam hamil di RS. Roemani yang diampu oleh bidan Naning, bidan yang mengasisteni dr. P waktu itu. Jika sebelum bertemu dr. P saya malas minum vitamin dari bidan, maka setelah itu saya berniat untuk rajin minum vitamin. Apalagi resep dari beliau terbilang mahal. Hehehe. Bismillah, saya mulai menerapkan apa kata dokter. Jalan pagi ditemani suami dan anak, ikut senam hamil tunggu ceritanya di tulisan selanjutnya ya, Bunda!. Juga mengurangi asupan karbohidrat dan gula. Etapi saya masih ngopi hitam dengan sedikiiit tambahan gula. Sesekali minum tanpa gula, tapi lebih sering dengan sedikit gula. Kalau lapar bagaimana? Hm.. Saat lapar namanya juga ibu hamil trimester 3 pasti sering kelaparan saya nyemil buah atau minum air putih banyak-banyak. Awalnya cukup tersiksa sih, tapi lama kelamaan jadi terbiasa. September 2017 35 weeks pregnancy Alhamdulillah, setelah terlambat hampir dua pekan dari jadwal periksa, akhirnya bisa ketemu dokter lagi. "BBJ sudah 2,75. Sudah besar nih, kemarin gimana?" "Wah, ko sudah besar ya Dok? Saya sudah mengurangi karbo dan gula... " jawabku sedikit putus asa. "Banyak makan buah ya? Buah manis juga gulanya banyak itu.. " "Oh, jadi gula yang dari buah juga kurang baik?" "Iya, sama aja itu. Apalagi jika makannya banyak." "Duh, saya salah dong, Dok. Pikirnya ga makan karbo sama gula tapi buah nggak apa-apa." "Mulai sekarang hindari karbo sama gula, termasuk buah yang manis. Nasi nggak usah sama sekali. Makan protein tinggi aja tiap hari." "Kalau banyak protein tinggi, BBJ bisa naik tapi bayinya kecil, nggak 'ngembang'," lanjut bidan yang menemani dr. P. Oh, baiklah! Meski 2-3 hari pertama rasanya stress dan tersiksa dengan diet dari dokter ini, alhamdulillah bisa menjalaninya dengan mudah setelah sekian hari. Sesekali lah masih cheating nyemil singkong, pisang rebus, atau sukun kukus yang dimasak ibu. Bayangkan tersiksanya orang yang seumur-umur tidak pernah diet, tiba-tiba dalam kondisi hamil tua harus diet karbo dan gula. Padahal makanan kegemarannya adalah termasuk yang manis-manis, cokelat, eskrim, roti, hwaaa...! *crying Seringkali pagi-pagi merengek ke suami minta bubur ayam, atau apa yang ditemui saat jalan pagi. Sayangnya, keinginan hanya tinggal keinginan. Sesekali ingin makan roti cukup minta segigit dari roti si Kecil atau menggigit pinggiran roti suami. Kadang saat stress tak tertahankan akhirnya jadi banyak nyemil juga, dan setelahnya baru merasa bersalah. Hiks. ​​​​​​​Aku mengetahui apa itu VBAC semenjak mempunyai 2 anak, itu pun hanya sebatas tahu saja. VBAC Vaginal Birth After Cesarian ialah melahirkan normal setelah pasca operasi kehamilan ke-3​​​​​​ aku merasakan lelah karena bayi yang begitu aktif. Pada Minggu ke-32 lahirlah anak ke-3 dengan operasi sesar dikarenakan KPD ketuban pecah dini dan Prematur. Itulah pengalamanku yang pertama di ruang operasi, rasanya tak mau terulang anak sebelumnya dilakukan dengan normal, itu pun di bidan walaupun ke DSOG hanya sebatas untuk USG. Kelahiran anak ke-3 membuatku trauma akan halnya ruang VK, dan memutuskan untuk menjaga jarak, karena di kelahiran anak ke-3 ku, aku harus berjauhan selama 14 hari karena bermasalah dengan jelas karena ia lahir prematur dan infeksi akibat terlalu lama dikeluarkan dari perutku. Itu pun terancam juga dengan detak jantung yang semakin melemah. Akhirnya, aku bertekad untuk menjaga baik-baik dia walaupun kondisi tubuh masih kurang baik. 15 bulan usianya aku hamil sebulan rasanya tak bisa dibayangkan antara senang campur sedih. Saya masih ketakutan mengingat ruang operasi. Memang seperti itu rasanya masuk ruang operasi, pasti seluruh tubuh dingin dan aku mulai kembali membuka website tentang VBAC dan beberapa grup yang aku follow di Facebook, rasanya semakin menambah ilmuku untuk memantapkan diri. Lebih dari 5 bidan aku kunjungi dan lebih dari 3 DSOG mereka menolakku untuk melahirkan normal karna jarak yang sangat dekat kurang dari 2 tahun. Bidan hanya bisa membantuku 5 tahun usianya, sedangkan dokter 3 tahun minimal lelah sekali setelah hati ini mantap untuk melahirkan normal karena aku tak mau kembali ke ruangan operasi sebelum mencobanya. Jika di pertengahan melahirkan ada kendala dengan pasrah aku serahkan jalan yang terbaik. Hari H pun tiba, akhirnya aku masuk juga di ruang VK dengan rasa waswas. Banyak tenaga kesehatan mengkhawatirkan kondisiku dengan jarak dekat ingin normal. Waktu 30 menit di pembukaan lengkap menanti DSOG, suster tak mau mengambil risiko mengeluarkan bayiku karena itu wewenang pun harus sabar selama 30 menit padahal posisi kepala bayi sudah sangat terlihat keluar, sekali hentakkan dapat keluar. Tetapi saya tetap menahannya karena khawatir dengan jahitan sesarku. Akhirnya, persalinanku pun spontan ketika dokter datang. Beberapa tips dan trick untuk sukses VBAC 1. Jaga jarak, kalau sudah terlanjur hamil, maka edukasi diri;2. Perkuat ilmu untuk banyak buka-buka website dan membaca kisah-kisah VBAC dan lainnya;3. Hindari Induksi Persalinan karena ini tidak dianjurkan, induksi mengakibatkan robeknya bekas luka sesar karena induksi itu mulesnya terasa 2x mules alami;4. Percaya diri akan membantu menjauhkan Anda dan bayi dari rasa stres;5. Dukungan dari tenaga kesehatan nakes dan keluarga sangat penting untuk mencapai tujuan akhirnya. Dukungan keluarga paling dekat ialah seorang suami yang harus terus menyemangati istrinya;6. Untuk rumah sakit, carilah rumah sakit yang mendukung walaupun sangat jarang untuk mendapatkan nakes VBAC. Cobalah terus berusaha jangan mudah putus asa;7. Jika Anda memiliki kenangan yang sangat traumatis di rumah sakit sebelumnya, atasi trauma itu dulu.

rumah sakit yang pro vbac